Sekelumit Sejarah Kabupaten Lampung Tengah




Sejarah
Kabupaten Lampung Tengah merupakan salah satu kabupaten di Provinsi
Lampung, Indonesia. Sejak diundangkannya Undang-undang Nomor 12
tahun 1999, Kabupaten Lampung Tengah mengalami pemekaran menjadi
dua kabupaten dan satu kota yaitu Kabupaten Lampung Tengah sendiri,
Kabupaten Lampung Timur dan Kota Metro. Seiring otonomi daerah serta
pemekaran wilayah, ibukota Kabupaten Lampung Tengah yang semula
berada di Kota Metro, pada tanggal 1 Juli 1999 dipindahkan ke Kota Gunung
Sugih. Kegiatan pemerintahan dengan skala kabupaten dipusatkan di Kota
Gunung Sugih sedangkan kegiatan perdagangan dan jasa dipusatkan di
Kota Bandar Jaya.
Sejarah Penduduk
Penduduk Lampung Tengah terdiri dari 2 (dua) unsur yaitu masyarakat
pribumi dan masyarakat pendatang. Masyarakat pribumi; warga
penduduk asli yang sudah lama menetap bahkan turun temurun mendiami
tempat ini. Sedangkan masyarakat pendatang adalah penduduk pendatang
yang tinggal dan menetap di sini. Penduduk pendatang terbagi lagi menjadi
2 (dua) unsur yakni pendatang lokal/suku Lampung dari luar Lampung
Tengah dan pendatang dari luar kabupaten (bukan asli suku Lampung) dan
luar provinsi.
Provinsi Lampung yang telah terlanjur dinobatkan dengan sebutan
'Indonesia Mini' karena keanekaragaman suku-suku bangsa bermukim di
tempat ini (karena adanya transmigran dan pendatang lainnya), juga tak
terkecuali dengan Lampung Tengah. Kabupaten yang dimekarkan tahun
1999 itu sendiri, selain didiami penduduk pribumi banyak pula masyarakat
pendatang yang berdiam serta menetap. Berbagai suku bangsa seperti
Jawa, Bali, Sunda, Palembang, Padang, Batak dan sebagainya mendiami
belahan daerah-daerah Kabupaten Lampung Tengah.
 

Bila melihat perkembangannya, pembauran masyarakat yang ada di
Lampung Tengah secara garis besar dikarenakan dulu adanya
transmigrasi sejumlah kelompok masyarakat terutama dari Pulau Jawa
dan Bali. Selebihnya adalah penduduk pendatang lain yang pindah serta
menetap di sini. Mereka membaur dalam kelompok masyarakat. Dari
waktu ke waktu pertumbuhannya semakin meningkat sehingga menjadi
bagian dari masyarakat Lampung Tengah seperti halnya penduduk
pribumi.
Penyebaran penduduk melalui program transmigrasi terhadap sejumlah
masyarakat terutama dari luar pulau ke Kabupaten Lampung Tengah
sebenarnya sudah ada sejak kolonial Belanda. Kepindahan penduduk
pendatang dari luar daerah masih berlangsung setelah kemerdekaan.
Bahkan perpindahan tersebut jumlahnya cukup banyak. Sebagian besar
para transmigran yang datang ke Kabupaten Lampung Tengah,
ditempatkan di beberapa district.
Selama dalam tahun 1952 sampai dengan 1970 pada objek-objek
transmigrasi daerah Lampung telah ditempatkan sebanyak 53.607 KK,
dengan jumlah sebanyak 222.181 jiwa, tersebar pada 24 (dua puluh
empat) objek dan terdiri dari 13 jenis/kategori transmigrasi. Untuk
Kabupaten Lampung Tengah saja antara tahun itu terdiri dari 4 (empat)
objek, dengan jatah penempatan sebanyak 6.189 KK atau sebanyak 26.538
jiwa.
Areal penempatan atau daerah kerja yang dijadikan objek penempatan
transmigrasi di daerah Lampung, umumnya berasal dari tanah-tanah
marga, baik yang diserahkan langsung kepada Direktorat Transmigrasi
oleh pemerintah daerah setempat melalui prosedur penyerahan maupun
bekas-bekas daerah kolonisasi dulu, seperti objek-objek transmigrasi di
daerah Lampung Tengah

Demi tercapainya integrasi dan assimilasi dengan penduduk setempat
(pribumi) serta dalam rangka pemekaran daerah dari jumlah objek-objek
transmigrasi tersebut, secara berangsur-angsur telah pula dilakukan
penyerahannya kepada Pemda setempat. Selanjutnya objek-objek
transmigrasi yang sudah diserahkan itu sepenuhnya menjadi wewenang
dan tanggung jawab pemerintah daerah yang bersangkutan, baik secara
tehnis administratif maupun pembinaan dan pengembangannya.
Seiring penyebaran dan pemerataan penduduk di Kabupaten Lampung
Tengah, laju pertumbuhannya kian bertambah dari tahun ke tahun.
Setidaknya, setelah Lampung Tengah menjadi tujuan trasmigrasi,
pertumbuhan penduduk semakin meningkat. Peningkatan pertumbuhan
tersebut tentu saja disebabkan adanya para pendatang dalam jumlah
cukup besar melalui perpindahan ini.
Beragam suku, bahasa, agama dan adat istiadat telah pula mewarnai
kehidupan penduduknya. Pada sejumlah tempat, akan ditemui
perkampungan masyarakat yang masih sesuku dengan adat budayanya,
percakapan sehari-hari yang mempergunakan bahasa daerah masingmasing, sarana ibadah menurut kepercayaannya dan lain-lain.
Perpindahan sekelompok masyarakat ini memunculkan pembauran antara
pribumi dan pendatang. Mereka membaur serta berinteraksi dalam
kemajemukan yang sudah terjalin.
Menurut Undang-undang (UU) No. 3 Tahun 1972, Transmigrasi adalah
kepindahan atau perpindahan penduduk dengan sukarela dari suatu
daerah ke daerah yang ditetapkan di dalam wilayah negara Republik
Indonesia atas dasar alasan-alasan yang di pandang perlu oleh negara.
Sedang transmigran, merupakan setiap warga negara Republik Indonesia
yang secara sukarela dipindahkan atau dipindah menurut pengertian
sebagaimana yang di pandang perlu oleh negara.
 

Kampung paling dominan di Kabupaten Lampung Tengah dihuni oleh
masyarakat suku Jawa. Agama yang dianut mayoritas Islam dan sebagian
lagi agama Kristen Katolik, Kristen Protestan, Budha dan Hindu. Sebagian
besar dari masyarakat ini tadinya bermula dari transmigran yang
ditempatkan di Lampung Tengah waktu itu. Mereka berasal dari bagian
tengah dan timur pulau Jawa. Didalam pergaulan hidup sehari-hari di
kampung, mereka mempergunakan bahasa Jawa sebagai penutur. Menurut
penuturannya, untuk mengucapkan bahasa Jawa, seseorang harus
memperhatikan serta bisa membedakan keadaan orang yang diajak bicara
maupun yang sedang dibicarakan. Perbedaan itu berdasarkan usia atau
status sosialnya. Sebab pada prinsipnya, jika di tinjau dari krateria
tingkatannya bahasa daerah ini terdiri dari bahasa Jawa Ngoko dan Krama.
Berbahasa Jawa Ngoko di pakai bagi orang yang telah di kenal akrab,
terhadap orang lebih muda usianya serta lebih rendah derajat atau status
sosialnya. Lebih khusus lagi adalah bahasa yang di sebut Ngoko Lugu dan
Ngoko Andap. Sedangkan bahasa Jawa Krama digunakan terhadap orang
yang belum di kenal akrab tapi sebaya baik umur maupun derajat. Dapat
juga di pakai bagi yang lebih tinggi umur serta status sosialnya. Ada pula
bahasa Krama Inggil yang terdiri dari sekitar 300 kata. Digunakan untuk
menyebutkan nama-nama anggota badan, benda milik, sifat, aktivitas dan
emosi-emosi dari orang lebih tua maupun tinggi derajat sosialnya. Selain
itu, ada juga penuturan yang di sebut bahasa Kedaton atau Bagongan,
bahasa Krama Desa dan bahasa Kasar. Di lingkungan setempat, terutama
dalam pergaulan hidup sehari-hari masyarakat Jawa di Kabupaten
Lampung Tengah, bahasa yang digunakan lebih banyak menuturkan
bahasa Jawa Kasar atau Jawa Pasaran. Penuturan ini lebih gampang di
mengerti dan sering di pakai di dalam bercakap-cakap. Bahkan tidak
sedikit suku lain mampu bercakap-cakap mempergunakan bahasa Jawa
tersebut.
 

Masyarakat suku Jawa di Lampung Tengah masih memegang teguh kultur
daerah asal. Hal ini nampak jelas terlihat dari bahasa yang digunakan,
sistem kekerabatan s


Share :